NASEHAT KH. ABDUL HANNAN MA’SUM


kh.hanan.ma'sumTeman yang muwafiq paling banyak terdapat di pondok sebab teman pondok kebanyakan saling mengingatkan tolong menolong dalam kebaikan. Setiap orang akan diuji oleh Allah SWT walaupun dia berada dimanapun, dilindungi siapa saja pasti musibah itu akan terjadi sesuai dengan takdirnya dan atas kekuasaan Allah.
Perlu di ingat ;
1. Lebih baik diam dari pada ngomong yang tidak ada gunanya
2. Kita harus mengerti zaman, maksudnya adalah kita harus tahu bahwa kita masih muda jadi seharusnya lebih kuat dan lebih giat Untuk beribadah pada Allah
3. Kita harus melakukan sesuatu dengan istiqomah
4. Kita harus berjalan dijalan yang lurus walaupun berat rasanya
Tarbiyah itu memang tempatnya untuk anak didik dari segi akhlaknya agar lebih baik. Tarbiyah itu ibarat menanam pohon, masih perlu untuk disiram. maksudnya diberi nasehat agar tumbuh subur. Jodoh itu ibarat mur dan baut yang dicampur dalam satu kotak, kadang kadang langsung ketemu dan cocok dan ada yang lama baru ketemu.

Ingat jangan mendirikan pondok dari tanah waqof karena akan banyak terjadi permasalahan dengan orang yang mewaqofkan karena ada kemungkinan orang mewaqofkan tidak seratus persen ikhlas jadi kalo bisa mendirikan pondok lebih baik dari tanah hibah atau tanahnya sendiri.
Ada seorang kiyai yang bernama kiyai Jauhari dari pasuruan dia sering pindah pindah mendirikan pondok,kiyai Jauhari sering diberi tanah waqof yang digunakan untuk pondok pesantren tapi dikemudian hari banyak terjadi masalah dengan orang yang mewaqofkan dan ahli warisnya kemudian dia meninggalkan pondok tersebut karena masalah seperti itu kiyai Jauhari sering pindah-pindah mendirikan pondok, suatu saat dia diberi waqof di Kediri di boto putih dan dia membangun pondok disana pada suatu saat dia bekunjung kerumah romo kiyai kemudian romo kiyai ditanya endi omahmu endi pondokmu dijawab romo kiyai “isih ora duwe” kiyai Jauhari berkata: dungomu ora mandi iki, dungoho maneh, suatu saat kiayi Jauhari berkunjung lagi dan romo kyai ditawari tanah waqof untuk digunakan untuk pondok tapi romo kiyai tidak mau menerimanya karena romo kiyai pernah diberi pesan oleh kiyai zamrozi agar tidak mendirikan pondok pesantren diatas tanah waqof, suatu saat kiyai Jauhari datang lagi dan berkata: bener opo jaremu ngedekno pondok ing ndukure tanah waqof iku akeh masalahe, kemudian kiyai jauhari meninggalkan pondok beserta tanah waqofnya, kemudian kiyai Jauhari mendirikan pondok dari tanah hibah di daerah pasuruan (Pondok Darussalam) Kiyai Jauhari ora kerjo tapi pangga sugih dan istrinya cantik. ternyata wiridanya Manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jailani dan Sholawat Bahriyatul Kubro.
Apabila kamu menjadi pelayan agama, dunia pasti akan melayanimu. Apabila kamu melayani dunia maka dunia akan menjahuimu dan akan menyusahkanmu ingatlah itu.
Agar percaya diri mengadapi orang yang alim kita harus tanamkan pada diri kita bahwa orang yang yang alim sebelumnya juga belum alim, dia bisa alim seperti sekarang dikarenakan dia bersungguh dalam mencari ilmu mangkane seng temen kang.
Prinsipnya romo kiyai itu seperti bekicot, selagi bekicot itu masih hidup dan masih bisa makan pasti cangkanya juga ikut membesar dengan sendirinya, maksudnya bagian dalam kita tata terlebih dahulu yaitu hati maka dhohir (badan) juga akan ikut berimbang dengan sendirinya, kalau mendirikan pondok atau tempat ngaji yang penting dapat terus berjalan dan selalu ada kegiatan jangan sampai mati. maka masalah tempat akan berkembang dengan sendirinya.
Kelemahan orang alim yang miskin :
1. Agamanya akan kalah dengan orang kafir
2. Akan jadi hinaan orang
3. Sifat beraninya akan menurun
Romo kiyai pada waktu akan nikah tidak punya apa apa, bahkan pakaian yang digunakann untuk nikah saja belum punya, ibunya itu seorang penjual onde onde dan bapaknya seorang pemanjat kelapa, bagaimana sekarang caranya agar bisa menjadi seorang yang kaya? Dengan cara melayani agamanya Allah dan juga berusaha dengan sungguh sungguh.
Menjauhi perbuatan yang harom itu lebih baik dari pada ibadah sunnah. Sifat males itu menjadikan orang tersesat menjadi rugi karena waktunya akan hilang terbuang sia sia, jadi pemuda harus mempeng ibadah dan bekerja, supaya menjadi sukses.
Yang dikatakan orang yang kaya adalah orang yang besyukur dan menerima pembagian dari Allah, orang yang miskin adalah orang yang tidak bersyukur dan tidak menerima pembagian dari Allah (selalu merasa kurang terus menerus). Mempunyai ilmu banyak tapi yang diamalkan Cuma sedikit maka sedikit itulah yang akan dia dapatkan.
Syaithon itu menanamkan pada diri manusia sifat takut untuk miskin supaya manusia belomba lomba untuk mencari dunia dan melupaka untuk beribadah kepada Allah.
Jangan terlalu memikirkan nasib kita yang akan datang karena belum tentu besok kita akan masih hidup jadi sekarang beramal lah yang sebanyak-banyaknya
Do’a itu pasti dikabulkan kalau tidak diberikan pada dirinya mungkin akan diberikan pada anak turunnya atau mungkin diberikan pada tetangganya, jadi jangan pernah untuk lelah berdo’a kepada Allah karena suatu saat pasti akan dikabulkan oleh Allah.
Walaupun punya banyak harta tidak akan cukup untuk membahagiakan semua orang karena harta akan terus bekurang ketika diambil, tapi dengan akhlak yang bagus kita bisa membahagiakan semua orang karena akhlak tidak akan bisa habis walaupun digunakan terus menerus bahkan akan menjadi lebih baik.
Ujian atau cobaan itu ada dua macam:
1. Ujian yang ni’mat, seperti jatuh cinta
2. Ujian yang tidak enak seperti sakit
Tapi biasanya orang tidak kuat ketika dihadapkan pada ujian yang ni’mat
Barang siapa yang banyak tertawa maka wibawahnya akan berkurang
Harganya manusia itu tergantung dari ilmunya, pengalamanya dan usahanya.
Jadilah orang yang alim terlebih dahulu kemudian menata hati untuk menjadi manusia yang sempurna.
Jadilah orang yang alim terlebih dahulu baru mencari ilmu perdukunan karena orang yang mempelajari ilmu seperti itu biasanya mempunyai rasa sombong dan merasa yang paling kuat sendiri.
Perbuatan apa yang sering dia kerjakan akan membuat dia menjadi terkenal dengan perbuatanya itu sendiri. Semuanya bisa dirubah asalkan punya keinginan yang kuat untuk merubahnya.
Seorang santri atau orang yang alim itu harus mempunyai sifat suja’(pemberani), orang alim tapi tidak punya sifat pemberani ilmunya akan berkurang (menyusut), orang yang tidak begitu alim tapi mempunyai sifat pemberani akan berkembang (molor) seperti contoh orang yang berpidato orangnya alim dan sudah mempersiapkan segala sesuatunya karena tidak mempunyai sifat yang berani ketika tampil didepan semua yang dipersiapkan hilang, sebaliknya orang yang tidak begitu alim tapi mempunyai sifat yang berani dia bisa mengembangkan materinya menjadi lebih menarik dan lebih panjang.
Rizki itu ibarat ikan: Rizki itu sudah dijamin oleh allah, setiap orang itu pasti mempunyai rizki (rizki itu sudah ada dan sudah ditetapkan oleh allah), begitu juga dengan ikan sudah ada dalam laut, agar kita bisa mengambil rizki tersebut kita harus usaha lahir dan batin, usaha lahir dengan bekerja dan usaha batin dengan berdo’a, sama dengan ikan dilaut sudah ada tapi kita harus berusaha supaya bisa mendapatkanya, bersabar serta dengan berdoa’ itu ibarat pancingnya, untuk itu diperlukan umpannya yaitu dengan shodaqoh semakin besar umpan yang dipasang semkin besar ikan yang akan diperoleh.
Sebagian dari sikap wira’I romo kiyai sudah terlihat mulai dari kecil ketik dia berumur 10 tahun waktu masih sekolah SR di dalam sekolah dia selalu memakai kopeyah karena waktu ngaji dia pernah diberi tahu gurunya kalau kopeyah itu dilepaskan maka derajatnya akan turun dan termasuk orang yang fasiq.
Ngaji itu harus sabar karena dengan ngaji manusia dapat memperoleh kebahagian dunia dan akhirat pancen susah banget.
Yang dicari dari wanita adalah dan din dun, dan adalah badan, din adalah agama, dun adalah dunia.
“Sesungguhnya ilmu hikmah (ilmu yang dilakukan) itu akan menambah kemulyaan orang tersebut” seperti contoh orang yang mau zakat. Wiridan itu ibarat menanam pohon, membutuhkan proses yang cukup lama, semakin lama akan semakin besar dan semakin tinggi sehingga semakin besar pula terpaan angin terhadap pohon tersebut, wiridan itu semakin lama semakin besar cobaannya dan ujiannya, ketika mampu untuk melewati ujian tersebut pohon akan dapat berbuah dan kita bisa meni’matinya begitu juga dengan wiridan kalau kita sudah bisa melewati berbagai ujian kita akan mendapat kan buah dari wiridan tersebut.
Kalau ingin merasakan yang namanya ni’mat harus merasakan yang namanya susah terlebih dahulu, karena tidak ada kebahagiaan yang tidak ditempuh dengan kesusahan.
Di pondok itu ibaratnya berada dipenjara suci. Ulat itu menjijikkan dan makannya adalah dedaunan, tapi ketika menjadi kupu kupu semua orang menyukainya dan makanannya adalah sari bunga. Orang yang mempunyai ilmu itu tidak selalu kaya, walaupun dia seorang sarjana, atau orang yang alim belum tentu menjadi orang yang kaya, karena ilmu tidak ada hubunganya dengan dunia.
Anak yang masih kecil jangan dibiasakan makan makanan yang enak enak dan fasilitas yang berlebihan karena kalau sudah terbiasa dengan fasilitas yang mewah ketika diberi sesuatu yang tidak enak pasti dia tidak mau (tidak bersyukur).
Wiridan itu mendo’akan do’a, allah itu lebih tahu akan kebutuhan hambanya.
Rahasia dari wiridan itu sangat besar hanya dapat diperoleh dengan jalan istiqomah.
Kita harus bisa membagi waktu untuk wiridan, belajar dan berhubungan dengan manusia.
Didunia belum tentu ni’mat Apalagi berada di akhirat
Didunia sengsara Jangan sampai akhirat juga sengsara
Kunci sukses adalah dengan melihat kekurangan yang terdapat pada diri kita sendiri kemudian memperbaiki kekurangan kekurangan tersebut.
Semua kejadian sandarkanlah kepada allah maka hati kita akan merasa tenang dan tentram
Didekek tulangan nerimo * Didekek kenongo nerimo
Digawe melarat nerimo * Digawe sugih pangga nerimo
Iku ngono atine rojo * Ora ono susah lan sengsoro
Nang dunya during mesti enak * Opo mane h nang akhirot
Kalau ingin berhasil melakukan sesuatu:
1. Istiqomah
2. Hidmah
3. Sholat jamaah
Khidmah itu ibaratnya seperti umpan dalam memancing, digunakan untuk memancing supaya mendapatkan ilmu.
Orang yang sombong itu ibaratnya seperti katak yang berada dalam tempurung
Faqir tapi bersabar itu lebih berat dari pada kaya tapi bersyukur karena itu lebih baik faqir yang bersyukur dibanding kaya bersyukur.
Menjadi manusia itu harus selalu menerima terhadap apa yang diberikan dan ambillah hikmah yang terdapat dalam peristiwa tersebut pasti itu yang terbaik untukmu.
Orang yang sukses itu biasanya orang yang tidak begitu pintar tapi utun dan telaten, biasanya orang yang pintar itu punya sifat sombong yang berlawanan dengan sifatnya ilmu yaitu bertempat pada orang yang rendah diri.
Ilmu supaya manfaat itu harus mempunyai sifat takut pada allah (taqwa dan wira’i)
Orang kaya yang tidak kuat dengan kekayaannya orang yang diberi kekayaan tapi digunakan untuk ma’siat pada Allah.
Manusia akan terus dan selalu merasa kurang apabila dia melihat pada orang yang diatasnya padahal dia sudah diberi nikmat oleh allah sangat banyak sekali.
Romo kiyai itu satu bulan makannya: 4 kg beras, 3 btir kelapa, cabe satu gegam.
Sabar yang bagus adalah sabar yang tidak dicerita ceritakan.

“Wahai dunia Aku (Allah) akan melayani orang yang melayani Aku”
Masa tua itu ditentukaan olehh masa muda setiap apa yang kita kerjakan sekarang akan menentukan masa yang akan datang (masa muda itu masa bakti untuk masa tua),
Yang paling baik dicari oleh seorang pemuda adalah ilmu yang sebanyak banyaknya.
Kalau mempunyai ilmu yang banyak menjadi kaya itu mudah, kalau sekarang bermalas malasan besok kita akan menyesal.
Romo kiyai itu ngaji tasrif sampai 4 kali mulai dari umur 10 tahun, pertama kalinya Cuma menghafal dan ngelalar saja, ngaji ke dua baru paham sedikit, ngaji yang ke tiga agak paham dan ngaji yang keempat baru benar benar paham, jadi ngaji itu butuh proses yang cukup lama.
Kalau ingin jadi orang yang alim harus hafal dan paham tasrif, harus terus dihafal.
Kalau ingin doa’anya diijabahi harus bicara yang jujur tidak boleh bohong.
Enaknya dirumah tergantung seberapa besar susahya dipondok.
Riyadho paling gampang adalah sholat dengan berjama’ah akan di beri mudah memahami ilmu dan diberi kaya.
Maqom kasaf mencari akhirat dan dunia, maqom tajrid hanya mencari akhirat saja, tanda tandanya yaitu ketika mencari dunia malah mengalami kerugian seperti kiyai zamrozi pernah membeli kopi dan menyimpannya untuk dijual tapi malah mengalami kerugian.
Bahsul masail atau musyawaroh itu ibaratnya seperi menangkap maling ketika sudah ditangkap maka semuanya ikut senang, ketika masalah sudah ditemukan jawabannya maka semua ikut untuk mengoreksi dan mendukungnya apabila sesuai dengan yang benar.
Pesan kiyai zamrozi pada roma kiyai:
1. Kitabmu mulai seng cilik sampek seng gede kudu ditoto (di kebeki)
2. Nek dijaluki ngji ojo nolak
Romo kiyai pertama kali baca kitab kosongan yang besar adalah kitab bajuri yang dapat kiriman dari Jakarta kemudian romo kiyai diberi kiyai zamrozi untuk membacanya hanya berbekal kamus. Karena sangat banyaknya santeri yang minta ngaji pada romo kiyai pada waktu dipondok romo kiyai sampai tidak sempat untuk mencuci bajunya sehinggah ada orang yang mencucikan bajunya, sekarang orang tersebut menjadi sangat kaya dan membelikan mobil romo kiyai. Romo kiyai ngaji kitab fathul qorib Selama kurang lebih 5 tahun karena kiyai zamrozi ngajarnya sedikit demi sedikit, sampai khatam hanya tinggal 7 santeri dan 7 santeri tersebut menjadi kiyai.
“Sebaik baiknya penolong adalah isteri yang sholeha.”
“Ilmu itu tidak dapat dibeli karena harganya sangat mahal.”
Orang yang sholeh ketika ditempatkan pada suatu tempat maka tempat tersebut akan menjadi baik. Allah akan memberikan berhasil pada cita cita seseorang tergantung dari usaha orang tersebut. Cita cita itu bisa berhasil dengan kesabaran. Banyak orang yang cita citanya tidak berhasil dikarenakan pada waktu dia mengejar cita cita tersebut dia melupakan cita citanya.
Apabila seseorang diberi nikmat oleh Allah kemudian dia sombong dan pamer terhadapa nikmat yang telah diberikan oleh Allah maka Allah akan memberi cobaan padanya dan akan mengambil nikmat itu kembali.
Orang mondok itu seperti orang yang pergi kepasar dia harus belanja apa yang dia butuhkan saja jangan sampai menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak berguna ketika pulang dia gunakan apa yang telah dia beli dipasar, ketika mondok harus mencari ilmu yang sebanyak banyaknya yang nanti sekiranya ilmu tersebut digunakan untuk dirinya sendiri dan masyarakat.
Dunia itu barang titipan dan kapan saja dapat diambil oleh pemiliknya, kalaupun tidak diambil oleh pemilknya pasti akan ditinggal.
Barang siapa orang yang tidak sabar dalam menghadapi sulitnya mencari ilmu maka selamanya dia akan bodoh, barang siapa orang yang tahan dalam menghadapi sulitnya mencari ilmu maka dia akan bahagia didunia dan akhirat.
Sabar jamil adalah sabar yang tidak diceritakan pada orang lain.
Ketika sakit harus diterima karena semua itu merupakan pemberian dari Allah, Allah menurunkan penyakit karena membagi rizkinya pada semua maklhuk, ketika ada orang yang sakit otomatis orang yang jualan obat akan laku.
“Manusia itu ibarat tanah yang menmprl pada rida cikar terkadang berada dibawah dan terkadang berada diatas.”
Perbanyaklah berangan-angan terhadap makluk cipataan Allah sungguh menakjukan sekali.
Romo kiyai itu memberikan ijazah itu ibaratnya memberikan sebuah tunas atau biji terserah pada kita mau kita apakan biji tersebut, kita harus menanam dan merawatnya supaya dapat tumbuh besar sehingga pada akhirnya nanti kita juga yang akan menuai hasilnya.
Maqom fanaa’ kemudian maqom sabar selanjutnya maqom istiqomah
Orang mondok itu ibaratnya seperti bunga yang mekar tapi tidak semua bunga akan menjadi buah banyak sekali bunga yang gugur karena tidak kuat oleh terpaan angin dan badai, hanya beberapa bunga saja yang berhasil menjadi buah.
Belajar itu ibaratnya seperti pergi kesuatu daerah ketika baru pertama kali mungkin kita belum hafal dengan jalan dan keadaan daerah disana tapi ketika sudah bekali kali kita lewati dan kita lihat pasti kita hafal dan ingat jalan tersebut.
Manusia itu seperi layang layang apabila manusia itu baik maka akan diperebutkan banyak orang, jodoh itu juga ibaratnya seperi layang layang apabila pada saatnya dia juga akan jatuh pada pangkuan orang yang sudah ditakdirkan menjadi pendampingnya.
Yakinlah akan janji alqur’an dan hadits karena itu pasti benar.
Nek ora gelem berbah ket sesuk bakal pancet koyo ngono.
Orang yang merasa sakit hati apabila di ingatkan atau merasa tersinggung ketika ditegur maka memang benar dia melakukan kesalahan apabila tidak melakuan kesalahan maka dia tidak akan merasa tersinggung, seperti orang yang disiram dengan menggunakan air garam maka ketika di tubuhnya ada luka dia akan merasakan perih apabila tidak ada luka maka dia tidak akan merasakan luka.
Melakukan apapun pekerjaan hendaknya di niati untuk mencari ridhonya Allah.
Lebih baik melakukan satu wiridan secara istiqomah (terus menerus), dari pada melakukan banyak wiridan tapi tidak istiqomah, ibaratnya seperti menanam pohon, satu pohon kemudian dirawat dengan baik dari pada menanam banyak pohon tapi tidak dirawat, yang mungkin akan mati semua.
Hasil (bekas) dari wiridan itu sedikit demi sedikit, seperti kotoran yang terdapat pada buku, adanya kotoran karena seringnya dibuka.
Ketika melakukan banyak wiridan kemudian ditanya, yang mana dari wiridan tersebut yang memberikan manfa’at (atsar),pasti orang tersebut tidak bisa menjawabnya karena wiridan yang banyak itu ibaratnya seperti air yang berada dilaut atau sungai yang besar yang mana berasal dari sungai yang kecil-kecil kemudian berkumpul menjadi sungai yang besar, ketika sudah ada dilaut atau berkumpul menjadi sungai yang besar, maka air yang berasal dari sungai-sungai yang kecil tidak dapat dibedakan.
Orang yang jelek ketika mempunyai I’tiqod yang baik dan mau berusaha dengan kuat untuk baik pasti Allah akan memberikan jalan untuknya.
Kalau wiridan yang penting aje’(istiqomah).
Apabila menerima pujian janganlah merasa bangga karena semua itu dari Allah dan kapanpun Allah mau mengambilnya pasti itu dengan mudah bisa dia lakukan, ketika dihina janganlah terlalu bersedih, jadikanlah hinaan tersebut sebagai koreksi diri, karena hanya orang lain dan musuh kita yang tahu kelemahan kita, seharusnya kita harus berterima kasih pada orang yang mau untuk mengingatkan, menkritik dan memperhatikan kita kemudian jadikan itu semua sebagai jamu untuk kita supaya kita sehat dan tambah semangat.
Cobaan itu merupakan ujian untuk dijadikan sebagai jalan tujuan.
Apabila akan melakukan sesuatu pikirkanlah hasil dan akhirnya yang akan didapat, jangan terlalu tergesa gesa.
Pedagang yang jujur akan dikumpulkan bersama para shodiqin.
Ketika punya keinginan yang tersimpan jangan diobral terlebih dahulu, kita harus mengejarnya baru kalau sudah berhasil kita boleh berbicara.
Orang yang diberi nikmat pasti akan dijadikan orang yang hasud terhadap nikmat tersebut.
Awal kesalahan adalah hasud.
Yang terpenting punya ilmu kemudian diamalkan.
Tanahnya Allah itu sangat luas sekali.
Mencari ilmu itu harus berani jangan pikirkan biaya Allah maha kaya asalkan mau berusaha dengan sekuat tenaga pasti Allah akan memberi jalan. Kalau bisa setiap melihat sesuatu cobalah pikirkan dan ambil manfaat dan hikmahnya. Kunci untuk bisa meraih kesuksesan : yang penting tandang (terus berjalan) dan sabar
Dipondok yang terpenting bisa ikut mengamini do’anya kiyai, mau tidak mau harus ikut sholat berjama’ah.
Sebelum memberitahu orang lain cobalah lihat dirimu sendiri.
Pidato yang lkhlas jangan di bagus baguskan supaya disenangi manusia, ingatlah pada tujuannya pidato yang sebenarnya.
Orang yang ngaji ingatlah pada akhirat, jangan ingin dipuji, jangan ingin disenangi manusia, jangan ingin menarik simpati masa.
Jadilah seorang da’I yang bisa mengajak manusia dari senang dunia menuju senang akhirat, dari ma’siyat menuju tho’at, dari senang dunia menjadi seorang yang zahid.
Dalam berda’wa sebisanya masukanlah fiqh.
Semuanya dibuat Allah seperti ini pasti ada hikmah didalamnya.
Jadi anak harus bisa memberi pada orang tua.
Shohabat menjadi orang yang besar dan dekat pada Rasulullah karena dimulai dari ngodam (membantu) terlebih dahulu pada nabi, jadi kalau kepingin enak harus bekerja keras terlebih dahulu.
Kalau dipuji orang bersyukurlah, kemudian kembalikanlah itu semua pada Allah, karena hanya Allah yang patut untuk dipuji dan sesuatu dipuji itu karena Allah memberikan kelebihan pada sesuatu tersebut.
Jangan merasa besar dan agung, karena kebesaran dan keagungan hanya milik Allah semata, semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah.
Tinggalkanlah sifat rumanso (rumangso pinter, ganteng, bener).
Ketika menyampaikan pidato lihatlah pada mukhotobnya dan berilah materi yang bisa diterima mereka, anggaplah mereka semua orang awam ketika menyampaikan pidato. Tujuan orang berpidato adalah untuk memperbaiki masyarakat, lakukanlah dengan ikhlas dan jangan berharap sesuatu apapun baik barang ataupun pujian.
Cara yang paling cepat untuk menimbulkan yaqin dalam hati adalah dengan cara banyak I’tibar (berpikir pikir) tentang alam.
Riyadho yang benar yaitu riyadho yang sesuai dengan penyakitnya (apa yang menjadi kekurangan dirinya atau yang disukai syahwat) kita harus bisa menundukkannya dengan cara yang berlawanan, lihatlah para ulama’ terdahulu riyadhonya berbeda-beda karena penyakitnya juga berbeda-beda.

Iklan

Pengkhianatan 18 Agustus 1945

Memperingati satu abad Bung Hatta. Peringatan ini mengingatkan kita akan jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia–sebagai proklamator, kepribadiannya yang sederhana, ditambah kepeduliannya akan ekonomi kerakyatan. Namun, ada “dosa politik” (kebaikan yang dimanfaatkan orang) yang telah dibuat bung Hatta berkenaan dengan pencoretan tujuh kata (melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) dari Pembukaan UUD 1945.

Dua bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, Mei 1945, para founding father negeri ini telah menyadari dekatnya kemerdekaan Indonesia, sehingga mereka membentuk suatu badan yang bertugas mempersiapkan perangkat-perangkat yang dibutuhkan untuk berdirinya sebuah negara yang berdaulat. Akhirnya, dibentuklah suatu badan yang bernama BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 28 Mei dengan beranggotakan 62 orang yang diketuai oleh Dr. Radjiman Wediodiningrat. Pada sidang pertamanya tanggal 29 Mei 1945, Dr. Radjiman mengajukan satu pertanyaan penting yang merupakan tugas dibentuknya Badan tersebut: Apa dasar dari negara yang akan kita bentuk?

Dalam sidang BPUPKI ini terdapat perbedaan tajam di antara dua kubu, kubu Islam–yang merupakan kubu terbesar dengan 35 orang anggota–yang menghendaki dasar negara ini berdasarkan Islam, dan kubu sekuler yang tidak menghendaki peran agama dalam negara. Perdebatan panjang itu tidak terselesaikan sampai tanggal 1 Juni. Setelah pidato bung Karno selama satu jam dengan dipenuhi rayuan kepada para tokoh di kubu Islam agar mau berkorban untuk melakukan “kompromi politik”, dibentuklah sebuah panitia kecil beranggotakan sembilan orang: Ir. Soekarno, Dr. Mohammad Hatta, Mr Ahmad Soebardjo, Abikusno Tjokrosujoso, Prof. Abdul Kahar Muzakir, KH. Wahid Hasyim, Mr. A.A. Maramis, H. Agus Salim, Mr. Muhammad Yamin.

Pada tanggal 22 Juni 1945, akhirnya panitia ini berhasil merumuskan suatu konsensus politik yang mencerminkan dan mewadahi aspirasi semua golongan. Konsensus para founding father tesebut kini kita kenal dengan nama Piagam Jakarta, atau seperti kata Mr. Muhammad Yamin “Jakarta Charter“. Prof. Dr. Soepomo meyebutnya dengan “perjanjian luhur”, sedangkan Dr. Sukiman menyebutnya dengan “Gentlemen Agreement“. Piagam Jakarta inilah yang seharusnya dibacakan pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, sebagaimana diceritakan oleh Mr Soebardjo: “Suatu kenyataan ialah bahwa teks dari proklamasi telah dirumuskan dalam apa yang dinamakan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Rumusan ini hasil dari pertimbangan-pertimbangan mengenai kata Pembukaan atau Bab Pengantar dari undang-undang dasar kita oleh sembilan anggota komite di mana Soekarno sebagai ketuanya.” (Mr. Ahmad Soebardjo, lahirnya Republik Indonesia).

Sehari setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia, terjadi sebuah pengkhianatan kaum sekuler terhadap konsensus yang telah dibuat dengan susah payah. Salah seorang pembantu Laksamana Maeda memberitahukan Bung Hatta akan kedatangan seorang Opsir Jepang–yang sampai sekarang tidak diketahui identitasnya. Opsir tersebut menyampaikan “ancaman memisahkan diri” dari salah seorang tokoh Kristen Indonesia Timur, yang belakangan diketahui namanya Sam Ratulangi, seperti dijelaskan oleh Cornell University, seorang tokoh Politik Kristen Licik dari Minahasa. Meminjam istilah Prof. Kahar Muzakir, salah seorang perumus Piagam Jakarta yang kecewa, “Apa lacur 18 Agustus”. Dalam tempo yang singkat, sekitar lima belas menit saja, pada tanggal 18 Agustus 1945, sebuah kontrak sosial dan moral hasil perjuangan para perumus BPUPKI dicoret begitu saja.

Setelah 57 tahun kita merdeka, permasalahan krusial dasar negara ini belum selesai, sehingga kita belum mampu melakukakan apa-apa untuk membangun yang lainnya, karena memang dasar yang dibangun dengan kesepakatan, telah dikhianati dan diganti dengan dasar kesepakatan semu yang rapuh. Berbeda dengan Malaysia yang membangun dasar negaranya dengan Islam dan non muslim yang mencapai kurang lebih 40 %, penduduk menerimanya dengan lapang dada, tanpa rasa curiga. Mereka mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara. Sementara itu, minoritas non muslim di Indonesia, mengancam akan memisahkan diri bila tetap ada kata Syariat dalam UUD 45. Walaupun tujuh kata telah dihapus, ternyata upaya pemisahan itu tetap dilakukan oleh kalangan nashrani di Indonesia timur. Peristiwa pembentukan Negara Indonesia Timur tanggal 7-8 Desember 1946, sebagai hasil Konfrensi Denpasar, juga gerakan separatis RMS, yang sampai sekarang masih menyisakan bibit pergolakan di Maluku, menjadi buktinya.

Jadi, masalahnya adalah sikap Islamophobia yang kental, buah propaganda orientalis, ditambah “mental pengkhianat” yang diidap kebanyakan tokoh kristen, hasil kedekatan dengan penjajahan Portugis, dan Belanda. Seorang guru besar Sekolah Tinggi Kristen di Jakarta, Th. Muller Kruger, mengomentari kedatangan penjajah: “Mereka hendak menanamkan salib ditengah-tengah bangsa kafir, bahkan dapat juga dikatakan bahwa merupakan semacam “Perang Salib” apa yang mereka lakukan. Perang salib yang penghabisan tidak mengikuti jalan-jalan yang semula. Sekarang musuh Islam “ini” diserang dari belakang; maksudnya untuk memotong dari sumber penghidupannya, penyeberan Injil sudah menjadi tujuan yang utama, bukannya sebagai pekerjaan sambil lalu saja, sebagaimana halnya dengan usaha-usaha bangsa Belanda dan Inggris kemudiannya.” (Th. Muller Kruger; Sejarah Gereja di Indonesia; BPK, Jakarta; 1959) Jelaslah, bahwa yang menjadi masalah bukan pada teks asli Piagam Jakarta dengan pencantuman Sayri’at Islam, seperti sering diungkap oleh beberapa tokoh kalangan muslim yang “terkontaminasi” dengan propaganda Islamophobia, tetapi pengkhianatan atas konsensus politik umat Islam oleh kalangan Tokoh Sekuler.

Di sisi lain banyak kekecewaan dari kalangan tokoh Muslim yang merasa dikhianati oleh kaum nasionalis sekuler, sehingga akumulasi kekecewaan itu melahirkan gerakan perlawanan seperti gerakan Kartosuwiryo di Jawa Barat, Daud Beureuh di Aceh, Kahar Muzakar di Sulawesi, dan sebagainya. Kesemuanya itu seharusnya menyadarkan kita akan pengorbanan sia-sia anak bangsa yang tidak perlu terjadi. Begitulah, para pejuang muslim yang telah mengorbankan ribuan nyawa dan darah untuk mengusir penjajahan dari bumi pertiwi ini, satu persatu, justru malah dikhianati, bahkan dibantai oleh penguasa orde lama. Meminjam istilah Dr. Yusuf Qorodhowi dalam buku Umat Islam Menyongsong Abad 21: “Aktifis Islam menanam, Orang sekuler yang menuai.”

Di zaman Orde Baru, di mana terjadi marjinalisasi peran politik Umat Islam, kurikulum pendidikan dasar sampai perguruan tinggi dikemas sedemikian rupa untuk kepentingan penguasa sekuler, banyak anak bangsa yang tidak mengetahui sejarah kemerdekaannnya sendiri. Kesemuanya itu ternyata hanya melahirkan pembangunan semu yang rapuh, pembangunan materil yang berlandaskan utang, serta mengesampingkan pembangunan moral berlandaskan agama. Sejarah adalah catatan para penguasa, dan itulah yang terjadi sampai tumbangnya Soeharto dan datangnya era refomasi, yang membuka kembali kran kebebasan. Era ini harus dibarengi dengan merestorasi kembali catatan sejarah pada tempatnya, tentunya dengan kebesaran hati, dan kebesaran jiwa, tanpa distorsi dan tendensi, dan tentunya tanpa melupakan jasa para pahlawan kemerdekaan. Itulah yang harus dilakukan sebagai tanggung jawab sejarah. Dan, marilah mulai membangun dengan mendahulukan hati nurani.

Oleh: Nurhakim Zaki, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Muslim Antar Kampus (HAMMAS) Indonesia.

Bersihkan Aqidah-Hindari Tahayul

Marilah kita bersama-sama memantabkan diri kita, membulatkan tekad keyakinan kita sekaligus menyempurnakan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Di saat dunia yang makin menunjukkan panca robanya, sebagai petunjuk makin tuanya dunia. Dan makin mundurnya pemahaman-pemahaman manusia terhadap nilai-nilai agama, jauh dari tatanan-tatanan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAw. Sehingga mungkarot, khurafat dan tahayyul sepertinya menjadi hiasan kehidupan sehari-sehari kita.

Bukankah Islam datang membawa penjelasan yang terang benderang bagaikan tiada beda antara siang dan malam! Sehingga semua memiliki tanda masing-masing. Semua itu akibat rendahnya pemahaman terhadap agama kita. Rasulullah SAW telah menyatakan Innallooha laa yaqbidhul ilman intizaa’an, wa laakin yaqbidhuhu biqobdhil ‘ulamaa'(Allah tidak akan mengangkat dan menghilangkan ilmu yang telah beredar di tengah-tengah umat, tetapi Allah akan menghapus, mencabut ilmu itu dengan dipanggilnya atau diwafatkannya orang yang menguasai ilmu yakni ulama). Tetapi ulama disini adalah ulama yang benar, ulama yang telah mengisi hidupnya dengan perjuangan yang paham akan arti hidup, dan mengerti bahwa kita diciptakan adalah sebagai makhluk proyeksi akhirat. Tetapi kini kita telah memasuki masa yang pada akhirnya tinggal generasi-generasi bobrok, jauh dari pemahaman Islam yang benar.

Sahabat Abdullahbin Abbas memberikan tafsir, bahwa periode yang akan datang pasti nilainya lebih jelek, lebih jeblok dari pada tahun-tahun yang telah lewat. Ini bukan berarti tahun kemarin perekonomian lebih maju. Pertanian dan perkebunan lebih berhasil dan semua penghasilan anak bangsa meningkat. Tidak! Dan tidak pula berarti bahwa para pemimpin tahun kemarin lebih baik dari pada tahun ini. Tetapi yang dimaksud adalah hilangnya generasi-generasi terbaik bangsa, ulama-ulama pilihan, sehingga yang tersisa adalah generasi yang lemah aqidahnya, generasi-generasi yang tidak paham tentang Islam. Generasi-generasi yang hanya mengandalkan kekuatan akalnya semata, sehingga terjadilah pergeseran pergeseran nilai. Hingga yang muncul adalah penyalahgunaan, penyalahpahaman terhadap arti, dan di situlah munculnya khurafat, tahayyul kebatilan dan kemaksiatan. Mereka hanya mengandalkan kekuatan akal pikiran mereka. Semuanya diukur hanya dengan akalnya. Islam adalah syariat Allah yang tidak identik dengan akal, tetapi Islam adalah tatanan wahyu yang diturunkan oleh Allah yang dapat dipahami secara rasional. Walaupun di dalamnya banyak juga penjelasan-penjelasan ghoibiyah (abstrak) yang harus kita imani dan yakini kebenarannya. Yang semuanya telah jelas patokan dan rujukannya. Apabila ada seseorang yang menyimpang dari itu, berarti telah terjadi penyelewengan, telah terjadi pengkhurofatan dalam memahami agama.

Syikh Husian bin Adham telah menyatakan:”Di dunia ada dua keculasan/penyelewengan; penyelewengan ilmu pengetahuan, dan penyelewengan harta kekayaan”. Orang-orang yang ilmunya makin bertambah, tetapi ketaqwaan dan zuhud tidak bertambah bukan berarti dia makin dekat kepada Allah, tetapi makin jauh. Gelar akademis makin bertambah, tetapi pemahaman agamanya sangat picik. Maka terjadi penyalahgunaan dan penyalahpahaman agama. Dan itu yang sangat mengkhawatirkan, sehingga muncullah pemujaan-pemujaan terhadap setan. Bahkan, kecenderungan umat sudah lebih mempercayai tukang ramal dari pada ahli agama. Seperti ketik REG (spasi) JODOH kirim ke nomor bla bla bla… hal itu begitu menjamur di media-media televisi. Sehingga mereka yang dangkal agama dan yang lemah imannya, meyakini bahwa hal itu yang mampu mengubah jalan hidup dan nasibnya. Bahkan istighotsah juga tak luput dari tunggangan semacam ini, yang semula untuk taqorrub kepada Allah, untuk pembersihan hati, tetapi justru yang muncul adalah janji-janji yang bisa membuat lengah dari tujuan utama. Seperti iklan-iklan akan kemakmuran kehidupan, jodoh, rizki dan sebagainya. Ini juga termasuk penyelewengan dalam pemahaman agama karena kepicikan dalam pemahamannya.

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu kami ingatkan: Pertama untuk kembali memahami dan berjalan di atas jalan yang benar dan juga seimbang sebagaimana datangnya Islam. Yakni harus kita kembalikan esensi pemahaman kita akan makna al-ihsan sebagaimana kita definisikan “Agar hendaklah anda beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat Allah, jika kamu tidak mampu, maka yakinlah bahwa Allah sedang mengawasimu”. Artinya apa yang lazim dari semua itu anda akan selalu berjalan di atas jalan yang benar. Tidak akan melakukan hal-hal yang aneh dan nyeleneh. Melakukan semua ajaran Islam terhadap apa yang diajarkan.

Kedua, ada kelemahaman dalam memahami keimanan tentang jodoh, rizki, ajal dan lain-lain yang semua ada dalam kekuasaan Allah. Kadang memang kita mengakui semua itu, namun prilaku kita sehari-hari mengingkari hal itu. Sudah kita menghabiskan waktu untuk mencari rizki sebanyak-banyaknya, sepertinya tidak akan pernah mati. Padahal kita diingatkan harus memperbanyak ingat mati, ini bukan berarti kita terus dicekam oleh kematian, tetapi kita harus mempersiapkan bekal kematian itu.

Ketiga, pemahaman yang keliru tentang qadha dan qadar. Seseorang apabila sudah dipastikan kedudukannya, takdirnya dikehendaki oleh Allah, tetapi dia menyesali, diingat terus-menerus, bahkan dia jatuh dan tidak bangkit lagi. Ini karena kesalahpahaman dalam memahami qadha dan qadar. Kita diwajibkan berusaha, hasilnya kita serahkan kepada Allah. Kita diperintahkan melakukan ‘sebab’ tetapi yang menentukan ‘akibat’ adalah Allah. Apapun yang Allah beri harus kita terima dengan keihklasan dan keridhaan.

Keempat, hilangnya sami’na wa tho’atan pada diri kita. Al-Quran sudah menyatakan 285: Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” Ucapan “kami dengar dan kami taati” itu adalah ucapan para Nabi dan Rasul termasuk juga para auliya’. Tentu kita sebagai pengikut (umat) juga harus menghiasi bibir dan hati kita dengan kata-kata itu, asalkan itu untuk menuju kebaikan kita di dunia dan akhirat. Tanamkan sami’na wa atho’na, saya yakin ini semua akan merubah kehidupan kita dan mudah-mudahan keimanan kita semuanya diberikan nilai tambah oleh Allah SWT. Amin ya rabbal allamin.